P. Dante Bello
Rotaie di Riveilo (Potenza), 4 luglio 1938
Tanjung Balai, Sumatra (Indonesia), 11 dicembre 1987
Nato a Rotaie di Rivello (Potenza) il 4 luglio 1938, il p. Dante Bello entrò nella nostra casa di Massa Lucana (1950) seguendo il cammino del fratello p. Domenico. A Zelarino fece il ginnasio superiore e a San Pietro in Vincoli il noviziato. Fu ordinato sacerdote nel 1964 e lavorò nella casa di Alzano come vice rettore (1965-1968) e direttore spirituale (1968-1971). Era amato da tutti per la generosità con cui tutti aiutava e per l'arguzia con cui rendeva simpatica la sua presenza.
Partì per l'Indonesia il 6 giugno 1973, dove si dedicò all'apostolato con i padri Casali e La Ruffa a Pekanbaru. Quando i superiori accettarono di aiutare la diocesi di Medan, egli studiò la lingua batak parlata in quella parte dell'isola di Sumatra, e nel 1980 fu inviato a dirigere la missione di Tanjung Balai.
Stava facendo le pratiche per avere la cittadinanza indonesiana, quando ebbe un grave incidente di moto (23 novembre 1983). In gennaio del 1984 fu trasportato in Italia dove poté curarsi meglio. Infatti ricuperò le forze abbastanza bene, tanto da poter tornare in Indonesia agli inizi del 1985. Sorridendo si chiamava un “handicappato" e intanto riprendeva la sua attività a pieno ritmo.
L'11 dicembre 1987, mentre riparava l'impianto elettrico della scuola parrocchiale, la morte lo colse; fu folgorato da una scarica elettrica. Raggiungeva così il fratello maggiore, morto all'inizio dello stesso anno. lasciò parrocchiani, familiari e confratelli nello sgomento, ma con il ricordo d'una vita spesa per Dio e per il prossimo.
La sua salma riposa in Tanjung Balai tra la gente che ha amato e che lo ha amato.
P. Dante Bello
Rotaie di Riveilo (Potenza), 4 luglio 1938
Tanjung Balai, Sumatra (Indonesia), 11 dicembre 1987
Fr. Dante Bello died on Dec. 11 1987 at Tanjung Balai (Indonesia) electrocuted as he was fixing an electrical panel of the parish school. He was 49 years old, born at Rotale di Rivello (Potenza) on July 4 1938.
He entered the Xaverian house of Massa Lucana in 1950 following the example of his brother Fr. Domenico. He proceeded to do Ginnasio at Zelarino, and novitiate at S. Pietro in Vincoli, where he professed religious vows in our congregation on Sept 12 1956. After theology studies, he is ordained priest on Oct. 25 1964, and starts working at Alzano as vice-rector (1965-68) and as spiritual director (1968-71). He showed his love to all, and people appreciated his sharp mind and presence.
He departed for Indonesia on June 6 1973, where he worked with Frs. Casali and La Ruffa at Pekanbaru. When the Superiors opened the doors to the diocese of Medan, he studied the “Batak” language of that island of Sumatra, and directed the mission of Tanjung Balai from 1980 onward.
Fr. Angelo Geremia wrote: “Fr. Bello went often to visit families, especially the sick. He spent a lot of time with them, giving them courage and strengthening their faith. He attended funerals and was present at neighborhood’s prayer meetings. He helped the poor in need. He would prefer to be taken advantage of than sending away someone in need. For this reason people truly loved him. They were impressed by his goodness, his generosity, his dedication, his ability to listen to everyone, showing care and patience with all. But people understood also another aspect of his life: his frequent prayer. People trusted him and confided in him. Even confreres approached him for the sacrament of reconciliation."
As he was applying for Indonesian citizenship, he had a bad motorcycle accident on Nov. 23 1983 which left him in bad shape. He returned to Italy in January 1984, and through rehabilitation, he was able to recuperate his strength, so much so that he returned to Indonesia a year later in 1985. His sister Anna recalled: “When he began to improve from his accident of the year before, he felt he was healed. His only dream was to return to Indonesia. I would, instead, remind him that he was not well enough to return; yet I understood that his desire to return among his people and finish the building of the church was greater in him. If he would have not returned, he would not have improved physically… With the will he had within himself, he would have moved even mountains to reach his goal.”
Back in Indonesia, he would call himself “handicapped” with his ever present smile, yet he sustained the rhythm of missionary activity.
As he was repairing an electrical panel of the parish school on Dec. 11 1987, he was tragically electrocuted. He died instantly. He would join his brother Fr. Domenico who had died earlier that year. Many parishioners, family members and confreres mourned his loss, knowing also that Fr. Dante had spent his life in the service of God and neighbor. He is buried among the people he loved, in Tanjung Balai, Indonesia.
P. Dante Bello
Rotaie di Riveilo (Potenza), 4 luglio 1938
Tanjung Balai, Sumatra (Indonesia), 11 dicembre 1987
Pada tanggal 11 Desember 1987, Pastor Pietro, pemimpin biara Xaverian Padang, menerima telepon dari Tanjung Balai yang mengatakan bahwa P. Dante telah meninggal karena tersengat aliran listrik. Mendengar berita itu pastor Pietro pun hampir saja meninggal karena serangan jantung. Pastor Pietro tidak percaya kalau Pastor Dante bisa kena aliran listrik sebab ia memang ahli di bagian kita. Tetapi itulah kenyataan. Itulah jalan Tuhan.
Pastor Dante Bello lahir di Rotale Rivello, Italia Selatan, pada tanggal 4 Juli 1938. pada waktu itu kakaknya yang berumur lima belas tahun berada di seminari Xaverian untuk menjadi misionaris. Pada waktu akan dipermandikan, orang tuanya bingung menamainya karena ada tiga orang pastor Xaverian yang ingin memberikan nama kepadanya. Karena tidak ingin mengecewakan hati ketiga pastor itu maka anak itu diberi tiga nama sesuai dengan keinginan ketiga pastor itu. Nama anak itu menjadi Dante Pietro Camillo, ditambah Bello (nama suku). Karena tertarik dengan kakaknya yang menjadi misionaris, Dante Bello juga ingin memasuki seminari Xaverian. Pada waktu itu umurnya baru 12 tahun. Orang tuanya tidak memberi izin. Bapaknya sangat senang anaknya ingin menjadi pastor, asalkan bukan misionaris seperti Dominiko kakaknya, melainkan pastor projo. Pertentangan keinginannya dan izin yang tidak diberikan oleh orang tuanya membuat Dante jatuh sakit. Makin lama makin parah saja sakitnya. Dokter yang menanganinya mengatakan kepada orang tuanya bahwa penyakit yang dialami oleh Dante itu bukan penyakit fisik melainkan lebih diakibatkan karena tekanan psikis. Dan penyakit ini hanya bisa disembuhkan kalau keinginannya dikabulkan. Dan memang itulah yang terjadi.
Selama studi di seminari, prestasi Dante biasa-biasa saja. Nilai-nilainya tidak istimewa tetapi ia pandai bergaul dan penuh kesederhanaan dalam hidup. Dalam waktu yang singkat, semua orang bisa menjadi teman akrabnya. Bila ada temannya yang sedang mengalami suatu masalah, Dante akan dengan penuh perhatian menghiburnya dengan berbagai cerita lucu.
Pada tanggal 25 Oktoober 1964, Dante ditahbiskan dan selama sembilan tahun ia ditugaskan di Seminari Menengah Xaverian di kota Alzano Lombardo, Italia Utara, sebagai pembimbing rohani. Tugas berat tersebut dipercayakan kepadanya karena ia dengan mudah mengambil hati orang lain dan menyelesaikan segala permasalahan. Selama sembilan tahun tersebut ia selalu berharap bahwa pada suatu hari ia akan dikirim ke daerah misi. Akhirnya keinginannya itu terpenuhi. Pada tanggal 6 Juni 1973, pastor Dante Bello diutus ke Padang. Selama satu tahun ia mempelajari bahasa Indonesia lalu dikirim ke Pekanbaru sebagai pastor paroki pembantu. Di sana ia bertugas dari tahun 1974 sampai tahun 1979. Selama periode ini banyak hal yang bisa diceritakan tentang pribadinya. Kita ambil saja kesaksian dari salah satu rekan kerjanya.
“Saya tidak terlalu lama bekerja dengan Pastor Dante tetapi waktu yang tidak terlalu lama itu sudah cukup bagi saya untuk mengenal pribadinya dengan baik. Yang paling mengesankan bagi saya adalah ketenangannya dalam situasi apapun. Ia selalu tersenyum dan mudah bergurau, tak pernah marah atau gelisah. Saya tidak bisa melupakan kesederhanaan dan rasa cintanya terhadap orang-orang miskin. Apa yang dimilikinya menjadi milik orang lain. orang-orang miskin sangat mencintainya walaupun terkadang ia tak bisa memberi apa-apa kepada mereka kecuali hanya senyum. Semuanya itu pasti tertanam berkat pendidikan dari kedua orang tuanya, dan juga berkat ketekunannya dalam doa. Baginya doa adalah nomor satu walau tengah menghadapi kesibukan apapun.” Itulah kesaksian yang diberikan oleh salah satu rekan kerjanya.
Setelah berkarya lima tahun di Pekanbaru, tibalah baginya masa untuk cuti dan pulang ke Italia. Sekembalinya dari cuti ia ditugaskan di Sumatera Utara. Walaupun umurnya sudah mencapai 42 tahun, namun dengan tekun ia mempelajari bahasa Batak. Pada tahun 1981, ia menjadi pastor paroki Tanjung Balai. Tentu saja kebaikan yang sudah dibuktikannya di Pekanbaru semakin menonjol setelah ia menjadi kepala paroki. Ia mempunyai perhatian besar terhadap pembinaan iman umat dan pendampingan calon babtis. Lama-kelamaan gereja tak sanggup lagi menampung umat sehingga bersama dewan paroki ia merencanakan untuk membangun gedung gereja baru.
Pada tanggal 23 November 1983, ketika kembali dari kantor emigrasi untuk mengurus berbagai hal untuk diterima menjadi warga negara Indonesia, ia tertabrak sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ia mengalami luka berat sampai tidak sadarkan diri. Dalam keadaan tidak sadarkan diri itu, ia dibawa ke Italia pada tanggal 14 januari. Berkat perawatan yang intensif ia dapat disembuhkan, dan pada tanggal 14 desember 1984 ia sudah diperkenankan untuk kembali ke Indonesia.
Setelah berisitirahat untuk menyesuaikan diri dengan iklim tropis di Padang, ia kembali ke Tanjung Balai untuk menemui domba-dombanya. Umat Tanjung Balai menerima kedatangan gembalanya dengan penuh sukacita. Ia dipestakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan kegembiraan tersebut memuncak pada tanggal 27 mei 1987 ketika Bapa Uskup Medan berkenan meresmikan penggunaan gedung gereja yang baru dibangun itu. Pada bulan-bulan berikutnya ia melengkapi gereja itu dengan berbagai perlengkapan. Ia merasa puas dengan hasil jerih payahnya bersama umat dalam mewujudkan sebuah gedung gereja yang baik. Ia berkata, nah, sekarang tugas saya di Tanjung Balai sudah selesai. Sudah ada umat yang aktif, sudah ada gedung gereja yang bagus…kini saya sudah siap untuk meninggalkan paroki ini.”
Tentunya ia tidak menyangka kalau beberapa waktu kemudian ia akan pergi untuk selamanya, untuk tetap menjadi teladan bagi siapa saja yang telah mengenalnya dan mengalami kesaksian imannya. Pada tanggal 11 Desember 1987 pastor Dante Pietro Camillo Bello meninggal dunia. Ia dimakamkan di gereja yang telah ia bangun bersama dengan umatnya. Selamat jalan Pastor Dante, dan jangan lupa untuk selalu menyertai perjalanan kami.
Liens et
Téléchargements
Accédez ici avec votre nom d'utilisateur et votre mot de passe pour afficher et télécharger les documents réservés.
