Accéder au contenu principal

Nardello P. Antenore

1596/500

P. Antenore Nardello 

Caldogno (Vicenza), 8 dicembre 1918
Vicenza, 31 ottobre 1989

Lavorò in Cina (4 anni), in Indonesia (34 anni). Sepolto a Caldogno

Il p.Antenore Nardello nacque l'8 dicembre 1918. Seguendo l'esempio del fratello Massimiliano già professo nell'Istituto Saveriano, entrò nella scuola apostolica di Vicenza nel 1931. Fu ordinato sacerdote nel 1946 e destinato alla Cina.

Restò nel "celeste impero" quattro anni, studiò lingua cinese e lavorò nella missione di Tsing-kiang (Kiangsi) del PIME. Giunti i comunisti di Mao-TzeTung nel 1951, fu espulso insieme col p. Cannizzaro.

Si unì al primo drappello di saveriani inviati a fondare una nuova missione nell'Indonesia e sbarcò a Padang il 24 Luglio 1951.

Dopo alcuni anni di rodaggio, sempre duri alle prese con una nuova lingua e popolazioni differenti, gli fu affidata la missione di Payakumbu, zona musulmana con nuclei di immigrati cinesi e giavanesi. Là rimase per ventiquattro anni.

Sentiva molto la solitudine. Forse per questo, ma soprattutto per il suo carattere allegro e ottimista, accoglieva sempre i confratelli a braccia aperte. Alla gente della parrocchia si dedicò corpo e anima. Non era un vulcano, non faceva castelli in aria; s'impegnò nella cura dei catecumeni e dei cristiani con metodo e costanza. Considerò la scuola come mezzo primario d’apostolato. Le sue scuole (materna, elementare e media) erano le migliori della zona. Un anno ebbero il primo premio a livello provinciale.

Quando nel 1983 gli fu chiesto di passare alla cattedrale di Padang come aiutante, si sentì come cadere nel vuoto. "Là avevo le giornate piene - scrive - qui invece ho una vita insignificante; mi hanno tolto le gambe che ancora volevano camminare".

Ma doveva pure fare i conti con la salute in condizioni preoccupanti. Dovette rientrare in Italia nel 1985. Passò gli ultimi anni nella nostra casa di Vicenza, più volte ricoverato d'urgenza all'ospedale.

Morì il 31 ottobre 1989, assistito dal fratello Massimiliano.

English

Fr. Antenore Nardello 

Caldogno  (Vicenza), 8 dicembre 1918
Vicenza, 31 ottobre 1989

Fr. Antenore Nardello died at the Xaverian house in Vicenza on Oct. 31 1989, for cerebral stroke. He was 71 years old, born at Caldogno (Vicenza) on Dec. 8 1918.

Following the example of his brother Massimiliano who was already professed among the Xaverians, Antenore entered at Vicenza in 1931. He proceeded into Novitiate at S. Pietro in Vincoli in 1936 and professed religious vows on Sept. 12 1937. He was ordained a priest on Apr. 20 1946, and later that year, on Dec. 17 1947, departed for China.

He worked only four years in the mission of Tsing-kiang (Kiangsi) with the PIME missionaries, and was expelled by the communist regime of Mao-TzeTung in 1951, together with Fr. Cannizzaro.

On July 6 1951, he departs with the first groups of missionaries to Indonesia, and reaches Padang on July 24 1951. After a few years of learning languages and local customs, he was assigned to Payankumbu, a Muslim area with some Chinese and Javanese immigrants. There, he worked for 24 consecutive years.

He felt lonely, at times, but through his joyful and optimistic character, he would make progress in the community of faith. The parish became the only field of work, caring for the catechumens, catechism classes, and the nurturing of Christian families. He established a kindergarten, primary and middle school, which received the honor of being the best in the province.

In 1983, he was asked to move to the Cathedral of Padang as an assistant, and he felt it deeply. He wrote: “I was ever busy there, among my people of Payankumbu; now, I live an insignificant life, as if they cut my legs, even when I wanted to walk.” 

Unfortunately, his health was a major concern for his superiors, and had to return to Italy in 1985. He spent the last four years of his life close to his own town, at our seminary in Vicenza, with many unexpected trips to the Hospital because of his poor health. He died on Oct. 31, 1989, assisted by his brother Massimiliano.

Indonesian

P. Antenore Nardello

Caldogno (Vicenza), 8 dicembre 1918
Vicenza, 31 ottobre 1989

P. Antenore lahir di Caldogno, propinsi Vicenza, Italia Utara, pada tanggal 8 Desember 1918. Orangtuanya sungguh orang Katolik sejati. Mereka mempunyai dua anak laki-laki, yaitu Massimiliano dan Antenore. Keduanya menjadi Misionaris Xaverian. Awal panggilan mereka sebenarnya cukup menarik, karena menunjukkan betapa dalam iman orangtuanya. Pada tahun 1922 relikwi St. Fransiskus Xaverius dibawa ke Katedral kota Viceza selama beberapa hari, untuk dikunjungi dan dihormati seluruh umat. Ibu Pastor Antenore pada saat itu masih dalam kondisi kurang sehat, namun ia tetap berangkat dari Caldogno ke Vicenza untuk berdoa dan menyentuh dengan tangannya sendiri relikwi tersebut. Sesampainya ia di Katedral, teranyata umat begitu ramai sehingga ia hampir tidak bisa masuk. Tetapi keinginannya utuk menyentuh relikwi ST. Fransiskus Xaverius begitu kuat, sehingga akhirnya setelah beberapa jam baru berhasil. Sambil menyetuh relikwi tersebut ia berdoa demikian : “ St. Franssiskus, tolonglah saya, saya sangat menginginkan anak saya, Massimilianio, bisa menjadi misionaris”. Lalu dengan puas hati ia keluar dari Katerdral.

Sambil duduk beristirahat sebelum menghadapi perjalanan pulang, pikirannya menjadi kurang tenang. Ia berpikir dalam hati: “ Mengapa saya hanya berdoa untuk Massimiliano saja, untuk Antenore kok tidak?”

Belum selesai ia berpikir, ia langsung berlari menuju Katedral, dengan spontan ia berdoa: “St. Fransiskus Xaverius, buatlah supaya Antenore juga menjadi misionaris”. Apa yang didoakan sang ibu kemudian sungguh-sungguh menjadi kenyataan.

Antenore masuk seminari Xaverian di kota Vicenza pada tanggal 21 September 1931, dalam usia 13 tahun. Setelah mengikuti pandidikan seperti teman-temannya yang lain, ia pun ditahbiskan pada tanggal 20 April 1946. Pada tangal 20 September 1946 ia menerima kabar bahwa ia akan diutus ke Cina. Hatinya begitu senang. Ia memberitahukan hal itu kepada ibunya. Ia berharap ibunya tidak telalu sedih karena keberangkatannya. Ibunya menjawab: “ Saya tak pernah menarik kembali doa saya kepada St. Fransiskus Xaverius pada tahun 1922 yang lalu, jadi berangkatlah engkau dan jadilah misionaris yang baik”.

Dorongan dari ibunya membuat semangat P. Antnore menjadi semakin berkobar. Tetapi karena pada waktu itu sangat sulit mencari kapal yang akan berangkat ke Cina, maka keberangkatan P. Antenore terpaksa ditunda sampai dengan tanggal 17 Februari 1947.

Ketika berada di Cina, ia mengalami banyak kesulitan, seperti yang dialami juga oleh para misionaris lainnnya. Selama dua tahun ia mempelajari bahasa mandarin dengan susah payah. Ia sempat mengalami pemerintahan komunis, dengan segala fitnah dan siksaan, yang berpuncak pada peristiwa pengusiran para misionaris tanggal 8 Februari 1951.

Pada waktu itu P. Antenore sempat menulis kepada uksup: “ Anak-anak kegelapan, yaitu kaum komiunis, mengusir badan kami dari Cina, tetapi jiwa kami tetap tinggal di sini. Kami mempersembahkan semuanya ini kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa setelah Kalvari akan datang kebangkitan”. Pada tanggal 6 Juli 1951, dengan kapal Corfu, P. Antenore bersama tujuh pastor lainnya berangkat ke Medan. Mereka sampai di sana pada tanggal 21 Juli, setelah 15 hari berlayar. Dari Medan mereka berangkat lagi ke Padang. P. Antenore langsung ditempatkan di Bukittinggi. Di bawah bimbingan Pastor Vergeiste, OFM Cap, ia mempelajari bahasa Indonesia.

Pada tahun-tahun pertamanya di Indonesia, ia berkarya di berbagai tempat untuk watu yang relatif singkat. Itulah tuntutan pembagian tenaga dalam masa peralihan antara pastor-pastor Kapusin dan Xaverian. P. Antenore bertugas sebagai pastor pembantu di Paroki katedral Padang, kemudian di Selat Panjang pada tahun 1954. Di Selat Panjang ia merasa seperti kembali ke Cina. Ia sangat senang karena merasa bahwa usaha terdahulu untuk belajar bahasa Mandarin ternyata tidak sia-sia. Pada bulan Juli tahun 1955 dia dipindahkan lagi ke Bagansiapiapi, lalu pada tahun 1956 ia menetap di Payakumbuh. Di sanalah ia berkarya selama 24 tahun.

Sebenarnya banyak yang dapat kami ceritakan tentang masa pengabdiannya di Payakumbuh, tetapi dalam situs ini kami hanya menyampaikan beberapa kesaksian saja, yang semoga tetap dapat menggambarkan kepribadian P. Antenore sebagai gembala. Ia sangat memperhatikan pelajaran agama, katekismus, dan pendalaman iman, karena menurutnya itulah dasar kehidupan Katolik. Selain itu ia juga tidak mengenal lelah dalam menjalankan karya kerasulan yang lain. Hal itulah yang membuat ia sangat dicintai oleh umatnya. Perpisahan terasa sangat berat baginya dan bagi umatnya, ketika ia diberi tugas sebagai pastor pembantu di katedral Padang pada tahun 1985.

Di katedral ia mendampingi para katekumen, mengujungi orang-orang sakit, dan menerima pengakuan dosa. Praktisnya ia melanjutkan apa yang telah dibuatnya di Payakumbuh. Hanya sayang sekali kesehatannya tidak mengizinkan. Pada tanggal 26 Juli 1985 ia dengan berat hati terpaksa harus meninggalkan Indonesia secara definitif.

Di Italia ia sempat dirawat dengan baik. Yang paling menyenangkan baginya adalah ketika ia sempat bertemu dengan ibunya untuk terakhir kali. Ibu yang puluhan tahun sebelumnya dengan penuh iman menyerahkan anaknya kepada Tuhan. “ Sampai jumpa lagi di surga”, katanya kepada Massimiliano dan Antenore pada tanggal 23 Mei 1986. Memang tidak lama kemudian P. Antenore memenuhi salam tersebut pada tanggal 31 Oktober 1989.


Partenza Nardello

DG
31 Octobre 1989
1596 Vues
Disponible en
Mots clés

Liens et
Téléchargements

Zone réservée à la famille Xaverienne.
Accédez ici avec votre nom d'utilisateur et votre mot de passe pour afficher et télécharger les documents réservés.