Fr. Genesio Tosi
Mezzano Rondani di Mezzani (Parma), 1 gennaio 1918
Parma, 19 maggio 1982
Missionario in Indonesia; Maestro e fotografo, si anni 64. Sepolto alla Villetta di Parma
Nato a Mezzano Rondani di Mezzani (Parma) il 1.I.1918, Genesio Tosi entrò nell'Istituto di Mons. Conforti a Vicenza il 29.9.1932 per compiervi gli studi ginnasiali ed avviarsi al sacerdozio.
Ma dopo i primi anni, per motivi di salute, gli fu consigliato di abbandonare gli studi e farsi Fratello Coadiutore. Cominciò così a far parte di quella categoria di missionari - espressamente voluti dal Conforti - che affiancano i Sacerdoti come catechisti, medici, costruttori, artigiani o semplici aiutanti.
Completato l'anno di Noviziato, emise la Professione Religiosa il 12.9.1938.
Negli anni che seguirono, la sua salute ebbe un notevole miglioramento tanto che poté riprendere gli studi, ottenere il diploma di Maestro, frequentare anche l'Accademia d'Arte di Parma e conseguire il Diploma di pittura.
Destinato alle Missioni, il 13.5.1954 partì pieno di entusiasmo per l'Indonesia, sua nuova patria.
Dopo i necessari studi di lingua, egli fu aiutante in varie stazioni missionarie, prodigandosi presso il dispensano in mille modi a beneficio di quella popolazione asiatica. Insegnò religione e scienze esatte nelle Scuole Medie Superiori di Padang, capoluogo dell'Isola di Sumatra.
Rientrato in Italia nel 1967, egli lavorò presso il C.E.M. (Centro di Educazione alla Mondialità, movimento promosso dai Missionari Saveriani per le Scuole) e specialmente continuò il suo "hobby" preferito, quello della fotografia. La fotografia sembra un'attività caratteristica della famiglia Tosi; infatti il fratello Arturo è noto professionista in città e provincia di Parma.
Fratel Genesio ottenne lusinghieri risultati nel campo fotografico: alcune sue fotografie "indovinate" sono apparse su quasi tutte le Riviste Missionarie italiane ed estere.
Delle sue poliedriche capacità è prova anche il diletto che egli trovava nel suono del flauto. Lo faceva nel tempo libero, ma aveva acquisito una tale capacità da lasciare ammirato chi ne ascoltava l'esecuzione di qualche Ave Maria e di altri notissimi pezzi d'opera.
Di salute delicata, Fr. Tosi, una decina d'anni fa subì un infarto. Negli anni successivi rimase esposto a non rari attacchi di angina pectoris e ad altre disfunzioni cardiache che avevano riflessi negativi sulla digestione e sulla respirazione.
Il 10 maggio 1982 fu ricoverato di nuovo in Ospedale in uno stato di grande debolezza e con accentuata difficoltà respiratoria. Il 17 e 18 maggio la spossatezza era diventata totale: faceva fatica a reggersi in piedi, aveva ripugnanza per ogni cibo.
Spirò la mattina del 19 maggio 1982 all'ospedale di Parma.
La salma fu portata in Casa Madre dove, il giorno seguente, vennero celebrati i funerali.
Durante la liturgia funebre, presieduta dal P. Provinciale, il suo Rettore P. Ercole Marcelli ebbe a dire:
"... laborioso e geniale., non perdeva occasioni per promuovere iniziative che promettevano abbondanti frutti di bene. Aveva un temperamento impulsivo che gli procurò tanti disagi; ma aveva anche doti meravigliose da tutti riconosciute. Aveva pure un parlare semplice ed immediato che, aiutato dal suo cuore generoso, può spiegare i suoi notevoli successi didattici a Capriglio, nelle Scuole Apostoliche dell'Istituto ed in Indonesia..."
Br. Genesio Tosi
Mezzano Rondani di Mezzani (Parma), 1 gennaio 1918
Parma, 19 maggio 1982
In the morning of May 19 1982, Br. Genesio Tosi died at the hospital of Parma for breathing difficulties. He was 64 years old, born at Mezzano Rondani di Mezzani (Parma) on Jan. 1 1918.
He entered the Xaverians at Vicenza on Sept. 29 1932 with the wish to become a missionary priest, but because of his health, he was advised to become a brother, thus joining the branch of missionaries envisioned by Conforti as catechists, doctors, builders, artisans or simple helpers. And so at the end of the Novitiate, he made his Religious Profession on Sept. 12, 1938. Because of health improvements, Br. Tosi continued his studies obtaining a degree in Teaching and in Art Painting.
Assigned to Indonesia, he left on May 13 1954 for Padang, where he studied the language, involved himself in nursing to benefit the disadvantaged there, and taught religions and sciences at the High School in Padang. A work that lasted 12 years. Fr. Marcelli recalled in the funeral homily: “The fact of leaving the mission after 12 years of activities brought him to a deep crisis, which he was able to overcome through his sincere faith. In fact, even in the troubles of spiritual doubts, he never renounced to be useful in missionary ministry through the press and the audiovisual materials.”
In 1967 he returned to Italy where he worked at the CEM and specialized himself in photography, which gave him much prestige among missionary publications in Italy. This hobby seemed to be "natural" for him, coming from a family where his own brother is a professional in Parma. Some of Br. Genesio's photos have appeared in many mission magazines, both in Italy and abroad. And during his free time, he also played the flute, with much skill.
Fr. Ercole Marcelli said in the funeral homily: “He was a worker and a genius, always looking for chances to bear good fruits. He was impulsive in his character, which caused him some personal difficulties; but he was truly gifted. Together with a generous heart, his conversing was simple and immediate, which gave him good successes in his teaching methods at Capriglio, in the houses of formation, and in Indonesia… I would say with certainty that he was waiting with serenity the end of his life, without too many regrets. With sincere devotion and beyond common wisdom, he would daily receive the Eucharist from the chaplain, and would often pray the rosary.”
About 10 years before his death, Br. Tosi suffered a heart attack which damage his already poor health. He was admitted for insufficient respiratory problems at the hospital in Parma on May 10 1982, and died in the morning of May 19, 1982.
Br. Genesio Tosi
Mezzano Rondani di Mezzani (Parma), 1 gennaio 1918
Parma, 19 maggio 1982
Br. Tosi lahir pada tanggal 1 Januari 1918 di Mezzano Rondani, sebuah kampung di sebelah kanan Sungai Po’, di propinsi Parma, Italia Utara. Sejak kecil ia tampak cerdik dan giat. Apabila terjadi kenakalan di kampung, pasti si Genesio mengepalai kelompok anak-anak yang membuat keributan itu. Tanpa kesulitan ia menamatkan sekolah dasar di kampungnya, dan pada tangal 29 September 1932, dalam umur 14 tahun, ia meminta kepada orangtuanya agar diizinkan memasuki Seminari Xaverian di Vicenza.
Satu tahun kemudian,saya masuk seminari di Vicenza untuk menjadi misionaris. Sejak itu saya bersahabat dengan Tosi, baik di sekolah menegah maupun di sekolah lanjutan, di Grumone/Cremona. Genesio selalu nomor satu di sekolah, karena ia memang anak yang pintar. Hanya sayang, kesehatannya kurang mendukung. Ia sering menderita sakit kepala. Sampai-sampai ia pernah dinasehati oleh superior untuk berhenti saja dari studinya. Ia menangis karena ia sunguh ingin menjadi seorang misionaris dan berkarya di tanah misi. Maka dengan penuh harap ia meminta supaya boleh diterima dalam Serikat Xaverian sebagai bruder. Akhirnya permintaaanya memang dikabulkan dan ia diizinkan memasuki novisiat.
Setelah selesai masa novisiat, pada tanggal 12 September 1938 dia dengan hati gembira mengucapkan kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Kesehatannya juga mulai membaik. Karena itu ia meminta agar diperbolahkan mengikuti sekoah guru, yang tuntutannya memang lebih ringan daripada sekolah filsafat dan teologi, yanghanya ditujukan bagi para calon imam. Permintaannya ini pun dikabulkan pula. Maka, dengan tanpa kesulitan ia berhasil menamatkan pendidikannya serta mendapatkan ijazah. Dengan demikia ia dapat juga menolong calon-calon Serikat Xaverian di sekolah menengah dan lanjutan .Selain itu ia juga belajar di sekolah seni lukis, sekolah perawat di rumah sakit, dan mengembangkan berbagai hobinya seperti musik dan fotografi. Ia mengusai banyak hal.
Walaupun jadwan kegiatan sangat padat, ia tidak pernah melupakan cita-citanya yang utama yakni menjadi rasul di tanah misi. Ia menulis surat permohonan kepada Superior agar ditugaskan sebagai pembantu pastor maupun sebagai guru atau katekis di tanah misi. Permintaan tersebut segera dikabulkan oleh Superiornya. Dia diizinkan mengikuti saya dan adik saya, P. Angelo untuk berangkat ke Indonesia. Kami bertiga berangkat pada tangal 13 Mei 1954 dari pelabuah kot Genova dengan kapal samudra “Australia”. Perjalanan selama tujuh belas hari dari Itali ke Indonesia menjadi suatu liburan yang besar bagi kami di kapal itu. Br. Tosi yang suka bergaul dengan mudah dan cepat berhasil menarik perhatian anak-anak kapal dan bapak laksamana.
Setibanya di Tanjung Priok, kami sangat bersedih karena harus berpisah, Tapi Br. Tosi memecahkan suasana duka itu dengan memberi ucapkan selamat kepada Bapak Laksamana. Dia berkata: “Pak Laksamana yang terhormat, pada waktu tiba di Sidney, Asutralia, jangalha luap memandang ke arah Indonesia. Pada waktu itu kami pasti sudah berada di Mentawai. Dari sana kami akan memberi salam dengan menghidupkan api besar di tengah rimba raya.”
Dari Jakarta kami berlayar ke Sumatera dengan kapal Belanda “Kalianda” , yang juga memuat ratusan kerbau. Kami tinggal beberapa hari saja di Padang, karena kami segera harus belajar bahasa di biara Xaverian, yang pada masa itu masih berada di Payakumbuh.
Guru kami, Bapak Cibensay, seorang Tionghoa, mengajarkan bahasa Indonesia kepada kami dengan menggunakan bahasa Ingris sebagai bahasa pengantar, padahal kami hanya tahu bahasa Italia. Namun, Br. Tosi, karena kepintarannya dengan cepat berhasi menguasai bahasa Indonesia. Maka meskipun baru setahun berada di Indonesia, dia sudah sanggup menerima tugas sebagai guru ilmu pasti di SMP frater Padang. Murid-murid cukup senang menerima pelajaran darinya, walaupun terkadang ia suka marah-marah karena para mereka tidak selalu mengerti apa yang disampaikannya. Ia mengajar di SMP frater selama lima tahun (1955-1969). Namun ia tidak pernah melupakan kami yang berkarya di Mentawai. Pada masa liburan dia datang ke Mentawai untuk menolong kami dalam pelbagai kegiatan. Walaupun tidak mengerti bahasa daerah itu, dia tetap dapat menarik simpati anak-anak dengan memainkan suling.
Pada tahun 1960 ia meminta agar dibebaskan saja dari tugas sebagai pengajar di SMP Frater, agar ia dapat menyumbangkan tenaga di Mentawai. Keinginannya terkabulkan. Ia memulai karya pastoralnya dengan merawat orang-orang sakit, terutama yang berada di Sikakap, kemudian di Sipora, tempat di mana ia juga membuka balai pengobatan. Ia berhasil menolong banyak pasien yang menderita malaria, dmean berdarah, disentri dan macam-macam penyakit lainnya. Pada tahun 1962, secara bersama-sama kai pulang untuk cuti ke Italia, dan setalahitu segera kembali lagi ke Indonesia. Pada permulaan 1963, Br. Tosi mulai lagi bertugas di SMP Frater, tetai ia juga mulai menderita sakit kepala seperti dulu. Maka ia kembali ke Mentawai untuk menolong kami.
Ia tinggal beberapa lama di Sipora sebaga katekis dan perawat. Saat itu Br. Tosi memang masih mengalami sakti kepala, tetapi ia masih dapat menangungnya. Semangatnya tetap tinggi. Namun akhirnya ia pun menyerah. Kemungkinan besar ia mengidap penyakti jantung. Bapa uskup meminta gar ia kembali saja ke Padang. Pada tahun 1967 ia dikirim kembali ke Italia untuk mendapat perawatan yang lebih baik dan memadai. Setelah mendapat perawatan dari rumah sakit di Parma, ia mulai berkarya di seminari calon misionaris. Di samping itu ia tetap menyalurkan bakat melukis dan fotografinya, untuk mempropagandakan karya misi. Meskipun sakit, hatinya selalu tertuju ke medan kerasulan.
Pada tahun 1972, untuk pertama kainya ia mendapt serangan jatung. Dan sejak saat itu ia mulai menempuh perjalanannya ke bukit Kalavari. Namun ia tidak pernah putus asa dan menerima keadaan itu sebagai anugerah dari Tuhan guna memperiapkan perjumpaan dengan-Nya. Di rumah sakit ia akan ditempatkan di sebuah kamar khusus, namun ia mengatkan: “Saya telah mengucapkan kaul kemiskinan, maka saya ingin tetap tinggal di kamar umum”. Di sana, biarpun tinggal bersama dengan pasein lainnya, ia selalu memegang rosario. Setiap hari ia meminta Komuni Kudus dari pastor yang betugas di rumah sakit, serta berdoa untuk tanah misi. Karena penyaktinya bertambah gawat, maka ia sering dijaga sepanjang malam oleh para konfrater (seminaris), tetapi karena ia tidak mau merepotkan mereka, ia sering menyuruh mereka pulang saja. Pada malam hari, tanggal 17 Mei 1982, ia merasa cukup tenang. Tetapi menjelang tengah malam rasa sakit luarbiasa kembali menyerangnya. Segala pertolongan yang diberikan dokter ternyata percuma. Pada waktu superior sampai di rumah sakit, Br. Tosi sudah kembali ke pangkuan Bapa.
Bulan Agustus 1993 yang lalu, ketika saya cuti ke Italia, saya berjumpa dengan beberapa orang Indonesia yang sedang berziarah ke Lourdes. Setibanya rombongan mereka di kota Firenze, mereka berpizah dari kelompok peziarah lain dan secara khusus datang ke kota Parma, di Rumah Induk Misi, untuk dapat berdoa di dekat kubur Bruder Tosi Genesio. Itu merupakan tanda bahwa ia sangat dicintai oleh umatnya.
Link &
Download
Accedi qui con il tuo nome utente e password per visualizzare e scaricare i file riservati.
