Skip to main content

Castelli P. Primo

1671/500

P. Primo Castelli

Antegnate (Bergamo), 26 marzo 1932 
Padang (Indonesia), 27 marzo 1972

Missionario morto tragicamente in Indonesia. Di anni 40. Sepolto a Padang - Indonesia

    Primogenito di quattro figli, nacque ad Antegnate (BG) il 26.III.1932 in una famiglia operaia animata da fede cristiana.

    Terminate le classi elementari lavorò a Milano per alcuni anni come tappezziere ed imbianchino riuscendo a farsi una buona esperienza pratica.

    A 19 anni chiese ed ottenne di entrare nell'Istituto Missionario di Grumone (CR) tra le vocazioni adulte. Dopo gli anni del Ginnasio e del Noviziato, il 12.IX.1956 emise la sua prima Professione Religiosa ed il 28.X.1962 veniva ordinato Sacerdote a Parma.

   Terminati gli studi, a 31 anni partiva missionario per l'Indonesia l’11.IX.1963. Dopo un periodo di lavoro pastorale diretto nei Distretti della Missione, venne nominato Rettore del Seminario Diocesano di Padang nell'Isola di Sumatra.

    A Padang il 27.III.1972 accadde il fatto tragico della sua morte avvenuta per un errore involontario:

    "... terminato di lavorare nel giardino, indubbiamente perché assetato, si accostava al frigorifero della Biara (Casa Religiosa), ne estraeva una bottiglia con la targa della birra ed ingoiava in fretta una sorsata. Si è sentito subito addosso uno stordimento: ha capito di aver bevuto qualcosa di orribile. Aveva bevuto un medicinale-veleno che teneva in casa per i fiori e che per un terribile sbaglio era finito poche ore prima nel frigorifero postovi dai Seminaristi che avevano pulito il frigo e, rimettendo a posto le bottiglie, vi avevano messo anche quella del veleno. Del tutto inutili si rivelarono le cure mediche che fu possibile praticargli solo tre quarti d'ora dopo che il P. Primo aveva per sbaglio ingerito la tremenda sostanza..." (Lettera di P. Piero Calvi, Padang 28.III.1972).

English

Fr. Primo Castelli

Antegnate (Bergamo), 26 marzo 1932 
Padang (Indonesia), 27 marzo 1972

Fr. Primo Castelli died of accidental poisoning on March 27 1972 at Padang (Indonesia). He had just celebrated the day before his 40th birthday, born on March 26 1932 at Antegnate (Bergamo).

Fr. Primo grew up in a Christian family, and worked for many years in Milan, after his elementary studies, as a painter and carpet installer. Primo was involved with talented and committed youth, while growing up: he animated the life of the parish, and was ever available for any service. His natural spirit of self-giving brought him to far-away horizons, thus embracing the missionary ideal. A confrere remembers his words, spoken a few years later: “I became a missionary because of love, leaving behind many things.”

At the age of 19, he asked to be admitted in the Xaverian community at Grumone (Cremona), specialized at that time for second career vocations. After some studies of Ginnasio and the Novitiate Year, he professed religious vows in our congregation on Sept. 12 1956, and was ordained priest on Oct. 28 1962.

At the end of his theology studies, Fr. Primo Castelli departed for Indonesia on Sept. 11 1963 where he worked in the Districts of the mission, and was later named Rector of the Diocesan Seminary of Padang, in Sumatra Island.

Unfortunately, an erroneous incident ended his life too soon. Here are the words from Fr. Piero Calvi, as he described his sudden death. “…After working in the garden, Fr. Primo went into the kitchen of the Biara (the Regional Domus) to have a beer, for he was thirsty. After he drank some, he realized it was not beer he drank, but a weed killer for the flowers of the garden. The fridge was, in fact, cleaned up in the morning by the Seminarians, and they put the bottles with the beer label inside it as they finished up the work. They also included the bottle with the weed killer, mistakenly labeled ‘beer,’ with that poison. 
Useless was the medical emergency care applied to Fr. Primo, some 45 minutes later. The drinking of that deadly poison brought him to his death.”
(Padang, March 28 1972).

“Our dear Fr. Primo died in a period of personal realization… He loved the missionary life, and he was a great example to others. The Lord took him home in the summit of his fulfilling missionary goal.
His death came too early, but it produced many copious fruits. In fact, the most beautiful fruits were maturing in Fr. Primo’s life through his life dedication to the missionary cause… Even today, among the beautiful things of the park at the Biara, we find his tomb, daily adorned with fresh flowers. His own seminarians and even strangers come to the park and daily bring a flower and share a prayer over the tomb of our dear Fr. Primo.”
(Letter of Fr. Pietro Calvi, Apr. 14 1972).

Indonesian

P. Primo Castelli

Antegnate (Bergamo), 26 marzo 1932 
Padang (Indonesia), 27 marzo 1972

 Ia lahir pada tanggal 26 Maret 1932 di Antegnate, suatu kampung besar dekat kota Bergamo, Italia Utara. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara keluarga Galileo dan Maria Luciani. Karena bapaknya sakit-sakitan, maka tanggung jawab kepala rumah tangga dipegang oleh sang ibu. Iman yang besar kepada Tuhan Yesuslah yang membuat sang ibu sanggup memikul beban keluarga tersebut.

Setelah tamat sekolah dasar, Primo berusaha mencari pekerjaan untuk menambah penghasilan orangtuanya. Ia pergi ke kota Milano, dan berhasil mendapatkan pekerjaan, yaitu di perusahaan pembuat perabot rumah tangga. Ia termasuk anak yang pandai dan cekatan dalam bekerja, dan hal ini diakui oleh majikannya. Dengan gaji yang diterimanya ia berhasil menolong orangtua dan adik-adiknya. Setiap hari ia bersepeda menuju tempat kerjanya. Malam hari dimanfaatkannya untuk berkumpul dengan teman-temannya, sesama muda-mudi, di paroki, guna membantu kegiatan paroki.

Pada suatu hari, timbul niat di dalam hati Primo untuk menjadi seorang misionaris. Tapi ia berpikir pula tentang keluarganya. Bagaimana nanti nasib mereka sepeninggal dia. Ketika orang tuanya mengetahui niat Primo, ibunya berkata, “Sekiranya Tuhan sungguh memanggil engkau, pergilah! Penyelenggaraan Ilahi tak mungkin meninggalkan kami.” Maka pada umur 19 tahun Primo meninggalkan keluarganya dan memasuki seminari Misionaris Xaverian. Memang pada awalnya ia tampak canggung karena harus duduk di bangku sekolah bersama dengan teman-temannya yang baru berumur sepuluh sampai sebelas tahun. Namun akhirnya ia berhasil menamatkan SMP dengan hasil yang memuaskan. Primo seorang anak yang rajin, meskipun sedikit keras kepala.

Pada tanggal 11 September 1955, ia masuk novisiat. Di sana hidup rohaninya digembleng. Ia berhasil menamatkan sekolah menengah dan teologi dengan hasil yang memuaskan. Pada tanggal 22 Oktober 1962 ia ditahbiskan menjadi imam, dan pada tanggal 11 September 1963 dengan pesawat terbang ia berangkat ke Indonesia.

Ia mulai belajar bahasa Indonesia. Cita-citanya sangat banyak dan besar. Pada tahun 1964, ia datang mengunjungi saya (P. Pietro Calvi, SX) di Mentawai dan jatuh cinta pada paroki itu. Tetapi pada waktu itu daerah Pasaman masih sangat membutuhkan tenaga pastor, maka ia ditugaskan untuk berangkat ke daerah itu. Tetapi entah karena kerjanya terlalu keras atau karena mendapat kabar kurang baik dari orangtuanya, kesehatannya mulai menurun.

Pada tahun 1965, datanglah Pastor Vanzin dari Italia untuk memimpin retret tahunan para pastor. Setelah tugasnya selesai, ia akan langsung kembali ke Italia. Pada saat itulah, Pastor Castelli datang dan mengatakan bahwa dia juga ingin kembali ke Italia. Saya terkejut dan merasa kecewa. Saya berusaha menumbuhkan semangat merasulnya, dan saya juga meminta kepada teman-teman, termasuk uskup sendiri, untuk memberikan nasehat kepada P. Primo, tetapi sia-sia. Akhirnya, ia berangkat ke Italia bersama Pastor Vanzin. Namun, saya yakin bahwa semangat merasulnya tidak akan pernah pudar.

Pada suatu hari, tahun 1969, ketika saya berada di Italia untuk menghadiri rapat besar Serikat Xaverian, ada orang yang mengetuk kamar saya. Ternyata ia adalah Pastor Primo Castello. Ia menyatakan kepada saya bahwa ia ingin kembali merasul di Indonesia. Saya merasa senang dan menyarankan agar ia menghubungi pastor pimpinan dan kemudian mengurus surat izin masuk ke kantor imigrasi. Pada tahun 1970, ia mengetuk pintu kamar saya lagi, tapi bukan di Italia, melainkan di Padang. Ia mengatakan bahwa ia akan merasul di Indonesia sampai mati.

Pastor Primo Castelli mendapat tugas memimpin seminari. Ia senang dengan tugasnya, dan para seminaris pun senang dengannya. Ia mempunyai banyak rencana tentang seminari, tetapi saya berusaha untuk menyadarkannya supaya tidak terlalu sibuk karena ia perlu juga memberi perhatian bagi orang lain. Mengurus kebun adalah salah satu hobi Pastor Primo Castelli. Ketika ia melihat bahwa di biara ada kolam dan air mancurnya, dia juga ingin membuat hal yang sama di seminari.

Pada suatu sore dalam tahun 1972, ia menemui saya di belakang kapel. Saat itu saya sedang mengurus kebun anggrek. Ia senang sekali melihat kebun anggrek itu. Ia berkata bahwa nanti kalau ia mati, ia ingin di kubur di kebun anggrek itu. Kami tertawa bersama. Sebelum pulang ia mengatakan bahwa nanti malam ingin kembali ke biara untuk makan es krim bersama. “Boleh….” Jawab saya, “tapi ada peristiwa apakah sehingga kita harus minum es krim bersama?” “Rahasia!” jawabnya. Maka pada malam itu saya mengundang para suster ALI untuk ikut pesta bersama di biara. Ketika saya menelepon suster untuk pesta minum es krim bersama Pastor Primo Castellio, suster sangat terkejut. Ia mengatakan bahwa Pastor Primo Castello baru saja dibawa ke sana oleh Bruder Manucci dengan mobil. Rupanya tanpa disadari Pastor Primo telah meminum racun. Sekarang ia dibawa ke rumah sakit umum.

Dengan bergegas, saya pergi ke rumah sakit dan langsung menuju ruang pertolongan pertama. Ia sedang dirawat di Unit Gawat Darurat karena  kondisinya sedang kritis. Sesampai saya di sana, saya melihat mukanya pucat dan matanya tertutup. Dengan tergetar saya panggil namanya: “Primo!”. Ia membuka matanya sebentar, dan kemudian berbisik lirih: “Mama”, lalu matanya tertutup kembali. Saya dengan sedih membuat tanda salib di dahinya, lalu berdoa sejenak. Memang ada banyak perawat di situ, tetapi tak ada seorang dokter pun. Saya berlari mencari Dr. Sumanto, yang telah mendengar berita dari saya segeran meninggalkan para pasiennya dan bergegas menuju ke rumah sakit. Kepada pembantunya ia berpesan agar dokter Tjua secepatnya dihubungi. Kami hampir bersamaan sampai di rumah sakit. Kedua dokter tersebut dengan cekatan memeriksa Pastor Primo, tetapi rupanya kondisi Pastor Primo Castelli sudah tidak dapat tertolong lagi. Tepat pukul tujuh malam ia meninggal dunia.

Latar belakang kejadian ini baru diketahui kemudian. Rupanya sepulang dari biara, sekitar jam 6 sore, Pastor Primo Castelli langsung ke seminari. Karena marasa haus ia membuka lemari es dan mengambil sebuah botol BIR, dan isi botol itu langsung diminum nya. Isi botol itu ternyata bukan bir, melainkan racun yang dibeli oleh anak seminari untuk membunuh rumput. Pada siang hari, anak-anak seminari memang ditugaskan untuk membersihkan ruangan dan lemari es. Mereka melihat sebuah botol dan karena mengira bahwa botol itu berisi bir, maka botol itu ikut dimasukkan ke dalam lemari es. Dan terjadilah malapetaka itu.

Tetapi hal itu kiranya sudah menjadi kehendak Allah. Banyak cara bagi Tuhan untuk memanggil pulang hamba-Nya. Terkadang cara yang digunakan-Nya tidak bisa kita terima dengan akal sehat. Jenazah pastor Primo dimakamkam di kebun anggrek di belakang kapel biara. Hari kematiannya ternyata merupakan hari ulang tahunnya yang ke-40. Hari bahagia itu kiranya ia rayakan di surga. Pastor Primo yang baik, doakanlah kami di hadapan Tuhan.


DG
27 março 1972
1671 Visualizações
Tags

Links e
Downloads

Área reservada para a Família Xaveriana.
Acesse aqui com seu nome de usuário e senha para visualizar e baixar os arquivos reservados.