Kehadiran Xaverian di Amerika Serikat tidak bisa terlepas dari kisah P. Henry J. Frasinetti, SX. Pada tahun 1940 beliau singgah di Amerika Serikat ditengah perjalanannya kembali menuju Italia dari misi di Cina. Karena masih dalam situasi Perang Dunia II, P. Frasinetti harus tinggal beberapa waktu di Amerika Serikat. Sembari menunggu situasi keamanan membaik dan kembali ke Italia, P. Frassinetti melihat adanya peluang untuk memperluas kehadiran Xaverian di benua Amerika. Tujuh tahun kemudian, setelah melalui perbincangan yang intens dengan Delegasi General dan Gereja setempat, rumah pertama Xaverian diresmikan di Holliston, Massachusetts, pada bulan September 1947.
Waktu terus berjalan dan kehadiran sejumlah Misionaris Xaverian yang datang, tinggal, dan pergi, mewarnai sejarah kongregasi di negeri Paman Sam ini. Tujuh puluh lima tahun sejak diresmikannya komunitas di Holliston, pada bulan September 2020, saya mendapatkan surat penugasan dari Roma untuk bermisi di Amerika Serikat. Saya tidak menyangka bahwa ternyata saya akan tinggal di komunitas Holliston, tempat dimana sejarah Xaverian di negara ini dimulai.

Dari Sierra Leone menuju negeri paman Sam
Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akan mendapat perutusan untuk bermisi di Amerika Serikat. Ketika berada dalam masa pendidikan saya selalu membayangkan untuk menerima perutusan di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota besar dan melayani komunitas umat yang sederhana. Saya bermimpi untuk bermisi di salah satu negara di Afrika dan mimpi saya itu terwujud ketika saya diutus untuk membantu karya misi di Sierra Leone pada tahun 2019. Dinamika misi disana membuat saya mengalami sendiri gambaran misi yang ada dalam bayangan saya di masa formasi.
Setelah hampir tiga tahun bermisi di pedalaman Sierra Leone, perpindahan tempat kerasulan ke Amerika Serikat benar-benar hal yang penuh kejutan. Hampir segala sesuatunya terjungkir balik. Seperti misalnya perubahan suasana dari negara tropikal menuju negara empat musim. Lalu ada juga perubahan situasi di pedesaan tanpa aliran listrik pemerintah ke tempat dimana arus listrik tersedia sepanjang hari. Dari tempat dimana harus berpikir apa yang bisa dimakan, ke tempat yang berlimpah-ruah makanan hingga bingung mau makan apa. Dari dinamika kehidupan di sebuah paroki kecil dan dikelilingi orang-orang muda, ke komunitas sebuah kapel kecil yang mayoritas umatnya adalah warga lansia. Bagi saya situasi secara umum yang saya gambarkan diatas itu-lah yang terasa mengejutkan.
Soal budaya baru dan bahasa terus terang tidak menjadi kendala yang berarti. Pengalaman tinggal bersama konfrater dari beragam budaya dan bahasa di Indonesia menjadi bekal yang sangat berguna ketika saya harus berjumpa dengan kebudayaan baru di negara ini. Saat ini, di komunitas Xaverian di Holliston, saya tinggal bersama dua Xaverian dari Amerika Serikat, P. Carl Chudy dan P. Rocco Puopolo, serta P. Francis Signorelli, Xaverian dari Italia yang sebelumnya lama berkarya di Brazil. Sebenarnya, masih ada seorang konfrater lagi yang menjadi anggota dari komunitas di Holliston, yakni P. Adolph Menendez. Hanya saja karena memerlukan perhatian khusus, selama 4 tahun terakhir beliau harus tinggal di panti jompo.

Bermisi di komunitas Holliston
Tahun 2025 ini merupakan tahun ke-tiga saya berada di komunitas Holliston. Karena persoalan imigrasi saya masih memegang visa pelajar hingga saat ini. Artinya saya harus mengikuti program perkuliah di sebuah lembaga pendidikan. Untuk tujuan tersebut, saya memilih untuk memperdalam bahasa Inggris di Framingham State University. Semester musim semi tahun 2025 ini menjadi semester ke-5 saya di kampus tersebut. Kesempatan bertemu dengan sesama mahasiswa dari beragam negara menjadi sarana bagi saya juga untuk memperkenalkan komunitas Xaverian dan hidup bakti.
Selain menjalani rutinitas perkulihan, turut serta dalam menjaga keberlangsungan kegiatan di komunitas juga menjadi tanggung jawab saya. Kami memiliki sebuah taman doa dengan rosario raksasa yang cukup dikenal oleh masyarakat setempat. Orang mengenal tempat yang diberkati pada tahun 1950 ini dengan nama Our Lady of Fatima Shrine Holliston. Tahun ini saya diberi tanggungjawab untuk menjadi penanggungjawab fasilitas ziarah tersebut. Sebuah tugas yang cukup menantang mengingat betapa luasnya area tersebut dan banyaknya hal yang perlu direnovasi sebab tampak usang dimakan waktu.
Shrine yang kami kelola di Holliston bukanlah sebuah paroki. Tidak ada paroki yang secara khusus kami tangani di delegasi Amerika Serikat. Karya kerasulan di shrine berbeda dengan karya kerasulan di paroki. Umat yang datang untuk mengikuti perayaan Ekaristi harian atau mingguan berasal dari beragam paroki di sekitar Holliston. Pengunjung taman doa-pun bervariasi. Dan karena terbuka untuk umum, siapa saja bisa berkunjung. Ada orang-orang yang merasa nyaman berdoa di taman yang hening, ada juga pengunjung yang sekedar menikmati sejuknya taman sambil berolah-raga.

Dinamika delegasi kecil di negara besar
Saat ini hanya ada dua komunitas Xaverian di Amerika Serikat, yakni komunitas Holliston di negara bagian Massachusetts dan komunitas Franklin di negara bagian Wisconsin. Selain itu ada juga komunitas Suster Xaverian (MMX) yang terdiri dari dua suster dari Meksiko dan seorang suster dari Italia. Dalam sejarah kehadiran Xaverian di negara ini, ada sejumlah tujuan yang hendak dicapai seperti menggalang dana bagi misi dan mencari bibit-bibit misionaris muda. Namun seiring perjalanan waktu tujuan tersebut dirasa makin sulit dicapai.
Tingkat ketertarikan orang muda setempat untuk memilih panggilan hidup bakti sangat kecil. Pada tahun 1962, Xaverian sempat mendirikan seminari kecil akan tetapi kurang dari 10 tahun seminari tersebut harus ditutup. Sejumlah kongregasi juga terpaksa menutup komunitas-komunitas pendidikan mereka karena tidak ada kaum muda yang tertarik untuk bergabung. Seiring dengan situasi tersebut jumlah konfrater yang berkarya di sini terus berkurang karena faktor usia.
Minimnya jumlah orang muda yang tertarik akan pilihan hidup bakti, komunitas umat yang mayoritas merupakan warga senior, dan keterbatasan konfrater yang ada karena faktor usia, menjadi situasi yang mewarnai karya misi Xaverian di Amerika Serikat. Fenomena itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan juga konfrater-konfrater di sini. Saya tidak membayangkan sebelumnya bahwa misi di negara maju seperti di Amerika Serikat menyimpan karakternya sendiri.
Saya sadar bahwa apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan, dari kehidupan sehari-hari di Holliston tidak menggambarkan situasi di Amerika Serikat secara keseluruhan. Akan tetapi dari pengalaman perjumpaan dengan umat di kota kecil Holliston ini, saya merasakan kehadiran komunitas Xaverian dan taman doa yang kami kelola seolah menjadi oasis di tengah padang gurun kehidupan modern yang diwarnai sekularisme. Untuk itu saya senantiasa memohon dalam doa agar Roh Kudus mendampingi kami semua yang turut berpatisipasi dalam misi keselamatan ini. Juga saya berharap agar kehadiran Xaverian di Amerika Serikat benar-benar menjadi tanda kehadiran kasih Allah yang menjangkau hati setiap manusia.
A piece of missionary story from the US
The presence of the Xaverians in the United States is inseparable from the story of Fr. Henry J. Frassinetti, SX. In 1940, he stopped in the United States while traveling back to Italy from his mission in China. Because World War II was still ongoing, Fr. Frassinetti had to stay in the United States for some time. While waiting for the security situation to improve so he could return to Italy, he saw an opportunity to expand the Xaverian presence on the American continent. Seven years later, after intense discussions with the General Delegation and the local Church, the first Xaverian house was inaugurated in Holliston, Massachusetts, in September 1947.
Time passed, and the presence of numerous Xaverian missionaries who came, stayed, and left shaped the history of the congregation in the "Land of Uncle Sam". Seventy-five years after the inauguration of the Holliston community, in September 2020, I received a letter of assignment from Rome to serve on a mission in the United States. I never expected that I would end up living in the Holliston community—the very place where the Xaverian history in this country began.
From Sierra Leone to uncle Sam
To be honest, I never imagined I would be sent on a mission to the United States. During my formation, I always envisioned being sent to a place far from the hustle and bustle of big cities to serve a community of simple faithful. I dreamed of a mission in an African country, and that dream came true when I was sent to help with missionary work in Sierra Leone in 2019. The dynamics of the mission there allowed me to experience firsthand the image of mission I had envisioned during my formation.
After nearly three years of mission in the hinterlands of Sierra Leone, the transfer of my apostolate to the United States was a total surprise. Almost everything was turned upside down. For example, the atmosphere changed from a tropical country to one with four seasons. There was also the shift from a rural setting without government electricity to a place where power is available all day long. From a place where one had to think about what could be eaten, to a place where food is so abundant that one is confused about what to choose. From the life dynamics of a small parish surrounded by young people, to a community of a small chapel where the majority of the faithful are senior citizens.
For me, these general situations were quite shocking. However, regarding the new culture and language, frankly, they did not pose significant obstacles. The experience of living with confreres from diverse cultures and languages in Indonesia became a very useful foundation for meeting new cultures in this country. Currently, in the Holliston Xaverian community, I live with two Xaverians from the United States, Fr. Carl Chudy and Fr. Rocco Puopolo, as well as Fr. Francis Signorelli, an Italian Xaverian who previously worked in Brazil for a long time. There is actually one more confrere in the Holliston community, Fr. Adolph Menendez. However, because he requires special care, he has had to live in a nursing home for the past four years.
Mission in the Holliston community
The year 2025 marks my third year in the Holliston community. Due to immigration matters, I am still holding a student visa. This means I must participate in a degree program at an educational institution. For this purpose, I chose to deepen my English studies at Framingham State University. The Spring 2025 semester is my fifth semester at the campus. The opportunity to meet fellow students from various countries has also become a means for me to introduce the Xaverian community and the consecrated life.
In addition to my daily studies, I am also responsible for helping maintain the activities of the community. We have a prayer garden with a giant rosary that is well-known to the local community. People know this place, which was blessed in 1950, as Our Lady of Fatima Shrine Holliston. This year, I was given the responsibility of managing this pilgrimage facility. It is a challenging task, considering how vast the area is and the many things that need renovation because they appear worn by time.
The Shrine we manage in Holliston is not a parish. In fact, there are no parishes specifically handled by us in the U.S. delegation. The apostolic work at a shrine differs from that of a parish. The faithful who come for daily or weekly Eucharistic celebrations come from various parishes around Holliston. Visitors to the prayer garden are also varied; since it is open to the public, anyone can visit. There are those who feel comfortable praying in the silent garden, and there are visitors who simply enjoy the cool garden while exercising.
Dynamics of a small Delegation in a large country
Currently, there are only two Xaverian communities in the United States: the Holliston community in Massachusetts and the Franklin community in Wisconsin. Additionally, there is a community of Xaverian Missionary Sisters (MMX) consisting of two sisters from Mexico and one from Italy.
In the history of the Xaverian presence in this country, several goals were to be achieved, such as fundraising for missions and seeking out young missionary vocations. However, over time, these goals have become increasingly difficult to reach. The level of interest among local youth in choosing a consecrated life is very low. In 1962, the Xaverians established a minor seminary, but it had to be closed in less than 10 years. Several other congregations have also been forced to close their educational communities because no young people were interested in joining. Along with this situation, the number of confreres working here continues to decrease due to age.
The lack of young people interested in the consecrated life, a community of faithful that is mostly senior citizens, and the limited number of confreres due to age are the conditions that color the Xaverian mission in the United States. This phenomenon is a unique challenge for me and my confreres here. I never imagined before that a mission in a developed country like the United States would have its own distinct character.
I realize that what I see, hear, and feel from daily life in Holliston does not represent the situation in the United States as a whole. However, from my experience meeting the faithful in this small town of Holliston, I feel that the presence of the Xaverian community and the prayer garden we manage is like an oasis in the middle of a desert of modern life characterized by secularism. For this reason, I always ask in my prayers for the Holy Spirit to guide all of us participating in this mission of salvation. I also hope that the Xaverian presence in the United States truly becomes a sign of God's love reaching the hearts of every human being.
Un frammento di storia missionaria dalla terra di zio Sam
La presenza dei Saveriani negli Stati Uniti non può essere separata dalla storia di p. Henry J. Frasinetti, SX. Nel 1940 egli fece tappa negli Stati Uniti durante il viaggio di ritorno in Italia dalla missione in Cina. A causa della situazione legata alla Seconda Guerra Mondiale, p. Frasinetti fu costretto a rimanere per un certo periodo negli Stati Uniti. In attesa che la situazione della sicurezza migliorasse per poter rientrare in Italia, p. Frasinetti intravide l’opportunità di ampliare la presenza saveriana nel continente americano.
Sette anni più tardi, dopo intensi dialoghi con la Direzione Generale e la Chiesa locale, la prima casa saveriana fu ufficialmente inaugurata a Holliston, nel Massachusetts, nel settembre del 1947.
Col passare del tempo, la presenza di numerosi Missionari Saveriani che sono arrivati, hanno vissuto e poi lasciato questa terra ha segnato la storia della congregazione nel Paese di Zio Sam. A settantacinque anni dall’inaugurazione della comunità di Holliston, nel settembre 2020, ho ricevuto da Roma la lettera di destinazione per la missione negli Stati Uniti. Non avrei mai immaginato che avrei abitato proprio nella comunità di Holliston, il luogo in cui ebbe inizio la storia saveriana in questo Paese.
Dalla Sierra Leone alla terra di zio Sam
A dire il vero, non avevo mai immaginato di ricevere una destinazione missionaria negli Stati Uniti. Durante il periodo della formazione sognavo sempre una missione lontana dal frastuono delle grandi città, al servizio di comunità semplici. Sognavo di essere inviato in uno dei Paesi dell’Africa e questo sogno si è realizzato quando nel 2019 sono stato destinato alla missione in Sierra Leone. La dinamica missionaria vissuta lì mi ha permesso di sperimentare concretamente l’immagine della missione che avevo nel cuore durante gli anni della formazione.
Dopo quasi tre anni di missione nell’entroterra della Sierra Leone, il trasferimento negli Stati Uniti è stato davvero sorprendente. Quasi tutto è cambiato radicalmente: dal clima tropicale a un Paese con quattro stagioni; da zone rurali prive di elettricità statale a luoghi dove la corrente è disponibile ventiquattr’ore su ventiquattro; da contesti in cui bisognava chiedersi cosa fosse possibile mangiare, a un’abbondanza tale da non sapere cosa scegliere. Dalla vita pastorale in una piccola parrocchia circondata da giovani, a una comunità legata a una piccola cappella frequentata prevalentemente da persone anziane. È soprattutto questo insieme di cambiamenti che ho vissuto come sorprendente.
Per quanto riguarda la nuova cultura e la lingua, sinceramente non sono state difficoltà significative. L’esperienza di vivere con confratelli provenienti da culture e lingue diverse in Indonesia è stata una preparazione molto preziosa per l’incontro con una nuova realtà culturale in questo Paese. Attualmente, nella comunità saveriana di Holliston, vivo con due Saveriani statunitensi, p. Carl Chudy e p. Rocco Puopolo, e con p. Francis Signorelli, Saveriano italiano che per molti anni ha svolto il suo ministero in Brasile. In realtà, vi è anche un altro confratello membro della comunità di Holliston, p. Adolph Menendez; tuttavia, a causa della necessità di cure particolari, negli ultimi quattro anni egli risiede in una casa di riposo.
In missione nella comunità di Holliston
L’anno 2025 segna il mio terzo anno nella comunità di Holliston. A causa delle questioni legate all’immigrazione, attualmente sono ancora in possesso di un visto per studenti. Questo significa che devo frequentare un programma accademico presso un istituto di istruzione. A tale scopo, ho scelto di approfondire la lingua inglese presso la Framingham State University. Il semestre primaverile del 2025 è il mio quinto semestre in questa università. L’opportunità di incontrare studenti provenienti da diversi Paesi è anche per me un’occasione per far conoscere la comunità saveriana e la vita consacrata.
Oltre agli impegni accademici, partecipare alla gestione delle attività della comunità è parte della mia responsabilità. Possediamo un giardino di preghiera con un grande rosario, piuttosto conosciuto dalla popolazione locale. Questo luogo, benedetto nel 1950, è conosciuto come Our Lady of Fatima Shrine Holliston. Quest’anno mi è stato affidato l’incarico di responsabile di questo santuario di pellegrinaggio, un compito impegnativo, considerando l’estensione dell’area e la quantità di lavori di ristrutturazione necessari a causa dell’usura del tempo.
Il santuario che gestiamo a Holliston non è una parrocchia. Nella Delegazione degli Stati Uniti non abbiamo parrocchie affidate direttamente ai Saveriani. L’attività pastorale in un santuario è diversa da quella parrocchiale. I fedeli che partecipano alle celebrazioni eucaristiche quotidiane o settimanali provengono da diverse parrocchie dei dintorni di Holliston. Anche i visitatori del giardino di preghiera sono molto diversi tra loro. Essendo un luogo aperto al pubblico, chiunque può visitarlo: c’è chi cerca il silenzio per pregare e chi semplicemente gode della frescura del giardino facendo attività fisica.
La dinamica di una piccola delegazione in un grande paese
Attualmente esistono solo due comunità saveriane negli Stati Uniti: la comunità di Holliston nello Stato del Massachusetts e quella di Franklin nello Stato del Wisconsin. Vi è inoltre una comunità delle Suore Saveriane (MMX), composta da due suore messicane e una suora italiana. Nella storia della presenza saveriana in questo Paese, tra gli obiettivi principali vi erano la raccolta di fondi per le missioni e la promozione delle vocazioni missionarie. Tuttavia, col passare del tempo, tali obiettivi sono diventati sempre più difficili da raggiungere.
L’interesse dei giovani locali per la vita consacrata è molto limitato. Nel 1962 i Saveriani fondarono un seminario minore che, però, dovette chiudere dopo meno di dieci anni. Diverse congregazioni hanno dovuto chiudere le loro comunità educative per mancanza di giovani interessati. Parallelamente, il numero dei confratelli presenti continua a diminuire a causa dell’età avanzata.
La scarsità di giovani interessati alla vita consacrata, comunità di fedeli composte prevalentemente da anziani e il numero limitato di confratelli a causa dell’età sono elementi che caratterizzano la missione saveriana negli Stati Uniti. Questa situazione rappresenta una sfida particolare sia per me sia per gli altri confratelli. Non avevo mai immaginato che la missione in un Paese sviluppato come gli Stati Uniti avesse caratteristiche così specifiche.
Sono consapevole che ciò che vedo, ascolto e vivo quotidianamente a Holliston non rappresenta l’intera realtà degli Stati Uniti. Tuttavia, dall’esperienza di incontro con i fedeli di questa piccola città, percepisco la presenza della comunità saveriana e del giardino di preghiera come un’oasi nel mezzo del deserto della vita moderna, segnata dal secolarismo. Per questo affido costantemente nella preghiera a Dio che lo Spirito Santo accompagni tutti coloro che partecipano a questa missione di salvezza. E auspico che la presenza saveriana negli Stati Uniti sia realmente un segno dell’amore di Dio che raggiunge il cuore di ogni persona.
Link &
Download
Access here with your username and password to view and download the reserved files.